PTK Bahasa Indonesia Kelas 2 SMA Tentang Peningkatan Keterampilan Menulis Paragraf Deskrpsi Dengan Teknik Objek Langsung
Contoh PTK SMA no.7: Peningkatan Keterampilan Menulis Paragraf Deskrpsi Dengan Teknik Objek
Langsung Melalui Pendekatan Kontekstual Komponen Pemodelan Pada Siswa
Kelas Xi IPS-2 SMA Negeri ABCDEFG
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada hakikatnya fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir, mengungkapkan gagasan, perasaan, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa dan kemampuan memperluas wawasan. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia haruslah diarahkan pada hakikat Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai alat komunikasi. Sebagaimana diketahui bahwa sekarang ini orientasi pembelajaran bahasa berubah dari penekanan pada pembelajaran aspek bentuk ke pembelajaran yang menekankan pada aspek fungsi. Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses negoisasi pesan dalam suatu konteks atau situasi menurut Sampson (dalam Depdiknas 2005:7).
Dalam kebiasaan bertutur setiap hari istilah ”bahasa” juga diterapkan kepada sarana-sarana komunikasi yang dikuasai oleh manusia. Bahasa merupakan ketentuan sosial yaitu bahwa bagian yang penting dalam kontak sosial manusia (interaksi sosial) terjadi melalui penggunaan bahasa. Melalui bahasa manusia, kita dapat bertukar informasi, saling bertanya dan saling memberi tugas, mengungkapkan penghargaan atau kurang menghargai satu dengan yang lain, saling menjanjikan sesuatu, saling memberi peringatan, dan saling berhubungan dengan cara yang lain, saling menjanjikan sesuatu, saling memberi peringatan, dan saling berhubungan dengan cara yang lain. Dengan demikian, hubungan sosial antarmanusia erat berkaitan dengan penggunaan bahasanya. Di satu pihak hubungan sosial menentukan untuk sebagian bagaimana manusia akan saling menegur dalam bahasanya di pihak lain hubungan sosial tertentu justru terjadi karena manusia saling berbicara dengan cara tertentu (Dick.S.C dan Kooij.J.G. 1994:5).
Dalam hubungannya dengan pengajaran bahasa, menurut Owens (dalam Soenardji dan Hartono 1998:102) menulis adalah menggabungkan sejumlah kata menjadi kalimat yang baik dan benar menurut tata bahasa, dan menjalinnya menjadi wacana yang tersusun. Selain itu, O’Hare (dalam Soenardji dan Hartono 1998:102) juga berpendapat bahwa pekerjaan menulis merupakan pekerjaan yang berdasarkan kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman belajar. Masyarakat mempercayakan pemberian tentang penyuluhan bahasa untuk mendapatkan pengalaman belajar sehingga diperoleh kemampuan yang dapat diaktualisasikan sebagai keterampilan menulis yang benar-benar dapat diandalkan di kalangan masyarakat. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia meliputi keterampilan berbahasa dan keterampilan bersastra. Keterampilan berbahasa meliputi empat aspek keterampilan yaitu keterampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis.
Keempat aspek keterampilan ini dalam pelaksanaannya saling berkaitan. Keterampilan menyimak berkenaan dengan bahasa lisan, sedangkan keterampilan membaca dan menulis berkenaan dengan bahasa tulis. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikiran seseorang. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktik dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti sama halnya dengan melatih keterampilan berpikir (Tarigan 1983:1).
Sebagai suatu bentuk ekspresi berbahasa, menulis memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda dengan bentuk ekspresi lainnya yaitu berbicara. Dalam kehidupan sehari-hari kegiatan menulis bukanlah sekedar menulis prosa (mengarang). Menurut Halliday (dalam Triyanto 2002:1) tujuan berbahasa tercermin dalam berbagai jenis teks. Setiap teks sesuai dengan tujuannya memiliki karakteristik yang berbeda, misalnya jenis huruf yang digunakan, jenis kalimat, struktur teks, dan organisasi teks. Ini berarti bahwa pengajaran menulis di sekolah bukan hanya menulis wacana yang berbentuk paragraf, namun juga bentuk-bentuk lainnya yang berbentuk nonparagraf.
Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang penting dalam kehidupan, baik dalam kehidupan pendidikan maupun masyarakat. Keterampilan menulis perlu diperhatikan karena merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh siswa. Dengan menulis siswa dapat mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan atau pendapat, pemikiran, dan perasaan yang dimiliki. Selain itu, dapat mengembangkan daya pikir dan kreativitas siswa dalam menulis.
Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Menulis merupakan suatu kegiatan yang aktif dan produktif serta memerlukan cara berpikir yang teratur yang diungkapkan dalam bahasa tulis. Keterampilan seseorang untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan, pengetahuan, ilmu, dan pengalaman sebagai suatu keterampilan yang produktif. Menulis dipengaruhi oleh keterampilan produktif lainnya, seperti aspek berbicara maupun keterampilan reseptif yaitu aspek membaca dan menyimak serta pemahaman kosa kata, diksi, keefektifan kalimat, penggunaan ejaan dan tanda baca. Pemahaman berbagai jenis karangan serat pemahaman berbagai jenis paragraf dan pengembangannya.
Sebagai seorang siswa hendaknya memiliki keterampilan menulis yang merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dimulai dari tingkat pendidikan dasar sampai dengan perguruan tinggi. Keterampilan yang sifatnya fungsional bagi pengembangan diri dan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu menulis perlu mendapatkan perhatian yang serius dalam pengajaran.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sekarang ditetapkan sebagai Kurikulum 2006 telah diberlakukan di sekolah-sekolah mulai tahun 2006. Kurikulum 2006 ini juga diterapkan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ditegaskan bahwa tugas sebagai guru adalah membelajarkan siswa, bukan mengajar. Siswalah yang harus didorong agar aktif berlatih menggunakan bahasa pada keterampilan menulis. Tugas guru adalah menciptakan situasi dan kondisi agar siswa belajar secara optimal untuk berlatih menggunakan bahasa agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Berkaitan dengan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, dalam Kurikulum 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tertulis. Standar kompetensi bahasa dan sastra Indonesia yang merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain itu, standar kompetensi adalah dasar bagi siswa untuk dapat memahami dan mengakses perkembangan lokal, regional, dan global.
Pada kesempatan ini, peneliti membahas tentang keterampilan menulis khususnya menulis paragraf deskripsi. Berdasarkan hasil observasi, keterampilan siswa untuk menulis masih sangat terbatas, terlebih lagi untuk dapat menulis paragraf deskripsi mereka kesulitan untuk dapat membedakan jenis-jenis paragraf. Agar dapat menulis kadang-kadang siswa perlu dipacu dengan menggunakan teknik dan media yang menarik. Untuk itu guru perlu mencari upaya yang dapat membuat siswa tertarik agar siswa dapat menulis dengan baik.
Dalam menulis paragraf deskripsi dibutuhkan adanya ketelitian, kepaduan, keruntutan dan kelogisan antara kalimat satu dengan kalimat yang lain, antara paragraf dengan paragraf berikutnya sehingga akan membentuk sebuah karangan yang baik dan utuh. Pengajaran menulis, khususnya menulis paragraf deskripsi adalah keterampilan yang bertujuan untuk mengajukan suatu objek atau suatu hal yang sedemikian rupa, sehingga objek itu seolah-olah berada di depan kepala pembaca.
Menurut hasil observasi dan wawancara peneliti dengan guru bahasa dan sastra Indonesia kelas XI IPS-2 SMA Negeri 1 ABCDEFG, peneliti menentukan berbagai masalah yang muncul sebagai akibat dari rendahnya keterampilan menulis siswa. Sesuai dengan kondisi di lapangan bahwa, berbagai masalah itu antara lain berkaitan dengan alokasi waktu pembelajaran menulis yang lebih sedikit dibandingkan dengan alokasi waktu untuk keterampilan berbahasa yang lain. Selain itu, siswa merasa belum mampu menyusun kalimat dengan struktur kalimat, bahasa yang baik dan benar. Keadaan ini mengakibatkan tidak efektifnya pembelajaran menulis di kelas.
Keterampilan menulis paragraf deskripsi pada siswa kelas XI IPS-2 SMA Negeri 1 ABCDEFG masih sangat rendah. Setelah penulis amati dengan saksama ketidakberhasilan itu terjadi karena beberapa faktor.
Faktor-faktor yang mengakibatkan rendahnya keterampilan menulis paragraf deskripsi di SMA Negeri 1 ABCDEFG, antara lain karena
(1) siswa kurang memahami ciri-ciri paragraf deskripsi serta cara menuangkan ide atau gagasan secara tepat; (2) siswa kurang memperhatikan dan menganggap mudah pokok bahasan ini dan jarangnya seorang guru menggunakan media pembelajaran sebagai media penyampaian materi pada siswa; (3) pada umumnya guru jarang menggunakan media pembelajaran pada saat penyampaian materi, sehingga para siswa menjadi cepat jenuh dan semakin tidak berminat untuk menulis, dan banyak siswa beranggapan bahwa keterampilan menulis itu adalah keterampilan yang paling sulit karena mereka sulit untuk mengawali kalimat dalam sebuah paragraf. Selain itu, setelah peneliti melakukan wawancara dan observasi langsung kepada guru bahasa dan sastra Indonesia, guru mengakui dan merefleksi bahwa selama ini belum pernah menggunakan media pembelajaran misalnya saja laboratorium bahasa. Sehingga siswa merasa jenuh dan bosan karena pembelajaran yang diberikan guru kurang menarik dan bersifat monoton.
Dari berbagai faktor dan kenyataan seperti itu, masih dapat diatasi oleh guru dengan cara guru harus sering memberikan bimbingan, latihan, dan motivasi pada siswa untuk menulis, sehingga siswa dapat menuangkan ide, atau gagasan dalam bentuk tulisan dengan baik. Bimbingan yang diberikan oleh guru kepada peserta didik atau siswa adalah bimbingan secara intensif atau secara sungguh-sungguh dan terus menerus sehingga memperoleh hasil yang optimal.
Melalui penelitian ini, peneliti mencoba satu pembaharuan untuk meningkatkan keterampilan menulis paragraf deskripsi yaitu melalui penggunaan teknik objek langsung.
Penggunaan teknik objek langsung ini sebagai alternatif pembelajaran menulis paragraf deskripsi sehingga diharapkan siswa akan lebih tertarik untuk menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan dan diharapkan dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam pembelajaran menulis. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi pembelajaran yang baru agar dapat memberdayakan siswa. Strategi pembelajaran itu antara lain pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa belajar dengan bermakna. Pendekatan kontekstual diharapkan dapat mendorong siswa agar menyadari dan menggunakan pemahamannya untuk pembangkan diri dan penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pendekatan kontekstual yang demikian diharapkan siswa dapat mengerti makna belajar, manfaat belajar, status mereka, serta bagaimana mereka mencapai semua itu. Mereka akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari akan berguna bagi hidupnya nanti.
Pendekatan kontekstual komponen pemodelan dengan teknik objek langsung diharapkan dapat mengenalkan atau menunjukkan, memotivasi, dan menarik minat siswa kelas XI IPS-2 SMA Negeri 1 ABCDEFG dalam menulis paragraf deskripsi, dan diharapkan keterampilan menulis paragraf deskripsi akan meningkat.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada hakikatnya fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir, mengungkapkan gagasan, perasaan, pendapat, persetujuan, keinginan, penyampaian informasi tentang suatu peristiwa dan kemampuan memperluas wawasan. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia haruslah diarahkan pada hakikat Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai alat komunikasi. Sebagaimana diketahui bahwa sekarang ini orientasi pembelajaran bahasa berubah dari penekanan pada pembelajaran aspek bentuk ke pembelajaran yang menekankan pada aspek fungsi. Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses negoisasi pesan dalam suatu konteks atau situasi menurut Sampson (dalam Depdiknas 2005:7).
Dalam kebiasaan bertutur setiap hari istilah ”bahasa” juga diterapkan kepada sarana-sarana komunikasi yang dikuasai oleh manusia. Bahasa merupakan ketentuan sosial yaitu bahwa bagian yang penting dalam kontak sosial manusia (interaksi sosial) terjadi melalui penggunaan bahasa. Melalui bahasa manusia, kita dapat bertukar informasi, saling bertanya dan saling memberi tugas, mengungkapkan penghargaan atau kurang menghargai satu dengan yang lain, saling menjanjikan sesuatu, saling memberi peringatan, dan saling berhubungan dengan cara yang lain, saling menjanjikan sesuatu, saling memberi peringatan, dan saling berhubungan dengan cara yang lain. Dengan demikian, hubungan sosial antarmanusia erat berkaitan dengan penggunaan bahasanya. Di satu pihak hubungan sosial menentukan untuk sebagian bagaimana manusia akan saling menegur dalam bahasanya di pihak lain hubungan sosial tertentu justru terjadi karena manusia saling berbicara dengan cara tertentu (Dick.S.C dan Kooij.J.G. 1994:5).
Dalam hubungannya dengan pengajaran bahasa, menurut Owens (dalam Soenardji dan Hartono 1998:102) menulis adalah menggabungkan sejumlah kata menjadi kalimat yang baik dan benar menurut tata bahasa, dan menjalinnya menjadi wacana yang tersusun. Selain itu, O’Hare (dalam Soenardji dan Hartono 1998:102) juga berpendapat bahwa pekerjaan menulis merupakan pekerjaan yang berdasarkan kemampuan yang diperoleh melalui pengalaman belajar. Masyarakat mempercayakan pemberian tentang penyuluhan bahasa untuk mendapatkan pengalaman belajar sehingga diperoleh kemampuan yang dapat diaktualisasikan sebagai keterampilan menulis yang benar-benar dapat diandalkan di kalangan masyarakat. Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia meliputi keterampilan berbahasa dan keterampilan bersastra. Keterampilan berbahasa meliputi empat aspek keterampilan yaitu keterampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis.
Keempat aspek keterampilan ini dalam pelaksanaannya saling berkaitan. Keterampilan menyimak berkenaan dengan bahasa lisan, sedangkan keterampilan membaca dan menulis berkenaan dengan bahasa tulis. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikiran seseorang. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktik dan banyak latihan. Melatih keterampilan berbahasa berarti sama halnya dengan melatih keterampilan berpikir (Tarigan 1983:1).
Sebagai suatu bentuk ekspresi berbahasa, menulis memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda dengan bentuk ekspresi lainnya yaitu berbicara. Dalam kehidupan sehari-hari kegiatan menulis bukanlah sekedar menulis prosa (mengarang). Menurut Halliday (dalam Triyanto 2002:1) tujuan berbahasa tercermin dalam berbagai jenis teks. Setiap teks sesuai dengan tujuannya memiliki karakteristik yang berbeda, misalnya jenis huruf yang digunakan, jenis kalimat, struktur teks, dan organisasi teks. Ini berarti bahwa pengajaran menulis di sekolah bukan hanya menulis wacana yang berbentuk paragraf, namun juga bentuk-bentuk lainnya yang berbentuk nonparagraf.
Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang penting dalam kehidupan, baik dalam kehidupan pendidikan maupun masyarakat. Keterampilan menulis perlu diperhatikan karena merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh siswa. Dengan menulis siswa dapat mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan atau pendapat, pemikiran, dan perasaan yang dimiliki. Selain itu, dapat mengembangkan daya pikir dan kreativitas siswa dalam menulis.
Menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Menulis merupakan suatu kegiatan yang aktif dan produktif serta memerlukan cara berpikir yang teratur yang diungkapkan dalam bahasa tulis. Keterampilan seseorang untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan, pengetahuan, ilmu, dan pengalaman sebagai suatu keterampilan yang produktif. Menulis dipengaruhi oleh keterampilan produktif lainnya, seperti aspek berbicara maupun keterampilan reseptif yaitu aspek membaca dan menyimak serta pemahaman kosa kata, diksi, keefektifan kalimat, penggunaan ejaan dan tanda baca. Pemahaman berbagai jenis karangan serat pemahaman berbagai jenis paragraf dan pengembangannya.
Sebagai seorang siswa hendaknya memiliki keterampilan menulis yang merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang dimulai dari tingkat pendidikan dasar sampai dengan perguruan tinggi. Keterampilan yang sifatnya fungsional bagi pengembangan diri dan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu menulis perlu mendapatkan perhatian yang serius dalam pengajaran.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sekarang ditetapkan sebagai Kurikulum 2006 telah diberlakukan di sekolah-sekolah mulai tahun 2006. Kurikulum 2006 ini juga diterapkan dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ditegaskan bahwa tugas sebagai guru adalah membelajarkan siswa, bukan mengajar. Siswalah yang harus didorong agar aktif berlatih menggunakan bahasa pada keterampilan menulis. Tugas guru adalah menciptakan situasi dan kondisi agar siswa belajar secara optimal untuk berlatih menggunakan bahasa agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Berkaitan dengan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, dalam Kurikulum 2006 yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tertulis. Standar kompetensi bahasa dan sastra Indonesia yang merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain itu, standar kompetensi adalah dasar bagi siswa untuk dapat memahami dan mengakses perkembangan lokal, regional, dan global.
Pada kesempatan ini, peneliti membahas tentang keterampilan menulis khususnya menulis paragraf deskripsi. Berdasarkan hasil observasi, keterampilan siswa untuk menulis masih sangat terbatas, terlebih lagi untuk dapat menulis paragraf deskripsi mereka kesulitan untuk dapat membedakan jenis-jenis paragraf. Agar dapat menulis kadang-kadang siswa perlu dipacu dengan menggunakan teknik dan media yang menarik. Untuk itu guru perlu mencari upaya yang dapat membuat siswa tertarik agar siswa dapat menulis dengan baik.
Dalam menulis paragraf deskripsi dibutuhkan adanya ketelitian, kepaduan, keruntutan dan kelogisan antara kalimat satu dengan kalimat yang lain, antara paragraf dengan paragraf berikutnya sehingga akan membentuk sebuah karangan yang baik dan utuh. Pengajaran menulis, khususnya menulis paragraf deskripsi adalah keterampilan yang bertujuan untuk mengajukan suatu objek atau suatu hal yang sedemikian rupa, sehingga objek itu seolah-olah berada di depan kepala pembaca.
Menurut hasil observasi dan wawancara peneliti dengan guru bahasa dan sastra Indonesia kelas XI IPS-2 SMA Negeri 1 ABCDEFG, peneliti menentukan berbagai masalah yang muncul sebagai akibat dari rendahnya keterampilan menulis siswa. Sesuai dengan kondisi di lapangan bahwa, berbagai masalah itu antara lain berkaitan dengan alokasi waktu pembelajaran menulis yang lebih sedikit dibandingkan dengan alokasi waktu untuk keterampilan berbahasa yang lain. Selain itu, siswa merasa belum mampu menyusun kalimat dengan struktur kalimat, bahasa yang baik dan benar. Keadaan ini mengakibatkan tidak efektifnya pembelajaran menulis di kelas.
Keterampilan menulis paragraf deskripsi pada siswa kelas XI IPS-2 SMA Negeri 1 ABCDEFG masih sangat rendah. Setelah penulis amati dengan saksama ketidakberhasilan itu terjadi karena beberapa faktor.
Faktor-faktor yang mengakibatkan rendahnya keterampilan menulis paragraf deskripsi di SMA Negeri 1 ABCDEFG, antara lain karena
(1) siswa kurang memahami ciri-ciri paragraf deskripsi serta cara menuangkan ide atau gagasan secara tepat; (2) siswa kurang memperhatikan dan menganggap mudah pokok bahasan ini dan jarangnya seorang guru menggunakan media pembelajaran sebagai media penyampaian materi pada siswa; (3) pada umumnya guru jarang menggunakan media pembelajaran pada saat penyampaian materi, sehingga para siswa menjadi cepat jenuh dan semakin tidak berminat untuk menulis, dan banyak siswa beranggapan bahwa keterampilan menulis itu adalah keterampilan yang paling sulit karena mereka sulit untuk mengawali kalimat dalam sebuah paragraf. Selain itu, setelah peneliti melakukan wawancara dan observasi langsung kepada guru bahasa dan sastra Indonesia, guru mengakui dan merefleksi bahwa selama ini belum pernah menggunakan media pembelajaran misalnya saja laboratorium bahasa. Sehingga siswa merasa jenuh dan bosan karena pembelajaran yang diberikan guru kurang menarik dan bersifat monoton.
Dari berbagai faktor dan kenyataan seperti itu, masih dapat diatasi oleh guru dengan cara guru harus sering memberikan bimbingan, latihan, dan motivasi pada siswa untuk menulis, sehingga siswa dapat menuangkan ide, atau gagasan dalam bentuk tulisan dengan baik. Bimbingan yang diberikan oleh guru kepada peserta didik atau siswa adalah bimbingan secara intensif atau secara sungguh-sungguh dan terus menerus sehingga memperoleh hasil yang optimal.
Melalui penelitian ini, peneliti mencoba satu pembaharuan untuk meningkatkan keterampilan menulis paragraf deskripsi yaitu melalui penggunaan teknik objek langsung.
Penggunaan teknik objek langsung ini sebagai alternatif pembelajaran menulis paragraf deskripsi sehingga diharapkan siswa akan lebih tertarik untuk menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan dan diharapkan dapat mengurangi kejenuhan siswa dalam pembelajaran menulis. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi pembelajaran yang baru agar dapat memberdayakan siswa. Strategi pembelajaran itu antara lain pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa belajar dengan bermakna. Pendekatan kontekstual diharapkan dapat mendorong siswa agar menyadari dan menggunakan pemahamannya untuk pembangkan diri dan penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pendekatan kontekstual yang demikian diharapkan siswa dapat mengerti makna belajar, manfaat belajar, status mereka, serta bagaimana mereka mencapai semua itu. Mereka akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari akan berguna bagi hidupnya nanti.
Pendekatan kontekstual komponen pemodelan dengan teknik objek langsung diharapkan dapat mengenalkan atau menunjukkan, memotivasi, dan menarik minat siswa kelas XI IPS-2 SMA Negeri 1 ABCDEFG dalam menulis paragraf deskripsi, dan diharapkan keterampilan menulis paragraf deskripsi akan meningkat.
