PTK SMP Kelas 1 Metode Keefektifan Metode PQRST dalam Membaca Pemahaman Teks Bacaan
Contoh PTK SMP No.1 : Keefektifan Metode PQRST Dalam Membaca Pemahaman Teks Bacaan Pada
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII Semester I SMP Negeri 1
ABCDEFG Tahun Ajaran ABCDEFG
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sudah menjadi kenyataan, kalau Indonesia dalam kualitas pendidikan berada diperingkat 109 sedangkan Malaysia berada di peringkat 61 dari seluruh jumlah negara-negara di dunia ini. Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih tertinggal jauh dari cita-cita luhur kemerdekaan bangsa dan juga tertinggal dari kemajuan yang telah dicapai oleh negara tetangga. Siswa sekolah menengah Indonesia berada pada posisi enam terbawah dari tiga puluh delapan negara (The Third Mathematic Science Study; 2000). Sementara itu riset hasil PISA (Programme For Internasional Student Assessment; 2003) menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia di tiga bidang utama yakni membaca, matematika dan sain umumnya rendah. Namun kebijakan Mendiknas untuk menetapkan kelulusan siswa ditentukan oleh pencapaian nilai diatas 4,00 yang dalam ujian akhir siswa minimal harus mencapai 4,01 untuk setiap mata pelajaran (Nasional maupun Lokal) tetap dilaksanakan mulai tahun ajaran 2003/2004. Pengumuman ini diharapkan berlaku pula untuk nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia, agar kemandiriannya sebagai sebuah disiplin ilmu sungguh-sungguh murni (Kompas 25Agustus 1998).
Hal inilah juga yang mungkin akan memacu para pengajar untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia karena selain Bahasa Indonesia sebagai disiplin ilmu yang mutlak dipelajari, Bahasa Indonesia juga memiliki dua tugas. Tugas pertama adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang tidak mengikat pemakainya sesuai dengan kaidah dasar berbahasa Indonesia. Namun Bahasa Indonesia digunakan secara nonresmi, santai, dan bebas. Yang dipentingkan dalam pergaulan dan berkomunikasi dengan warga adalah makna yang disampaikan. Pemakai bahasa Indonesia dalam konteks Bahasa Nasional dengan bebas menggunakan ujaranya baik lisan, tulis, maupun lewat kinesiknya. Kebebasan menggunakan ujaran itu juga ditentukan oleh konteks pembicaraan. Sebagai contoh, manakala Bahasa Indonesia digunakan di bus antar kota, ragam yang digunakan adalah ragam bus kota yang cenderung singkat, cepat, dan bernada keras.
Tugas kedua adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa negara yang digunakan sebagai Bahasa resmi. Dengan begitu, bahasa Indonesia harus digunakan sesuai dengan kaidah, tartib, cermat, dan masuk akal. Bahasa Indonesia yang dipakai harus lengkap dan baik. Tingkat kebakuan diukur oleh aturan kebahasaan dan logika pemakaian. Dari ke-dua tugas tersebut, menunjukkaan bahwa posisi bahasa Indonesia perlu mendapat perhatian bagi pembelajaran bahasa Indonesia (Suyatno; 2004).
Dua tugas di atas tentunya akan memberikan dampak bagi pelajar bahasa Indonesia yang masih awal dalam penguasaan kaidah bahasa Indonesia. pada satu sisi, siswa harus belajar bahasa Indonesia sesuai kaidah, sedangkan pada sisi lain, siswa menghadapi masyarakat yang berbahasa Indonesia secara bebas karena fungsi bahasa pergaulan. Siswa yang masih belajar itu tentunya berada di dua tarikan yang kalah kuat. Tarikan masyarakat lebih kuat dibandingkan oleh tarikan dari bangku sekolah.
Bermula dari kasus di atas, akhirnya banyak orang yang menganggap bahwa yang penting dipahami bukan benar tidaknya, buat apa belajar bahasa Indonesia karena tanpa belajarpun semua orang Indonesia dapat berbahasa Indonesia, bahasa Indonesia sangat sulit dan bahasa Inggris lebih bergengsi daripada bahasa Indonesia. Angapan itu akhirnya sampai ke siswa. Siswa menjadi ogah-ogahan dalam belajar bahasa Indonesia. Banyak diantara siswa yang terpaksa mengikuti mata pelajaran bahasa Indonesia. Selain itu tidak banyak yang menyadari bahwa suatu pengajaran Bahasa selalu berkaitan pada proses pembentukan logika dalam diri peserta didik. Acuan pokok yang paling mendasar ini agaknya telah terabaikan dalam praktek pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Kurikulum terbaru sebenarnya telah memberikan peluang yang luas bagi guru untuk menggali kreativitas, baik yang menyangkut sumber bahan maupun metode penyajian. ( Kompas 31 Mei 2004)
Kecenderungan lama masih saja muncul dengan mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang kira-kira akan keluar pada waktu ujian akhir. Ukuran keberhasilan pengajaran Bahasa Indonesia hanya ditolak dengan ketepatan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam testing. Keadaan pembelajaran seperti itu telah menjadi unsur dominan yang menggagalkan proses pembentukan logika dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Sedangkan dalam menunjang kegiatan belajar mengajar terdapat delapan kompetensi antara lain membaca, menulis, mendengar, menutur, berhitung, mengamati, menghayal, dan menghayati. Dari kedelapan kompetensi tersebut sangat erat hubunganya dengan pengajaran Bahasa Indonesia (Kompas 31 Mei 2004). Namun peranan pelajaran Bahasa Indonesia dalam menumbuhkan kompetensi di atas masih sangat kurang terutama membaca. Hasil riset PISA (Programme For Internasional Student Assessment; 2003) menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia khususnya membaca umumnya rendah.
Dalam pidatonya Presiden Megawati Soekarnoputri juga pernah menyatakan bahwa dibanding dengan Singapura yang berpenduduk 200 juta jiwa, Indonesia banyak memiliki siswa yang cerdas dan berkemampuan daripada Singapura, namun rendahnya minat baca membuat Indonesia tertinggal dalam mengembangkan teknologi dan pengetahuan (Kompas 30 juli 2004)
Dalam hal kemampuan literasi membaca siswa Indonesia juga jauh tertinggal. Sebanyak 69% siswa Indonesia berada pada tingkat kecapaian 1 dibawah 1; sementara itu 63% siswa Thailand berada pada tingkat kemahiran 2 atau lebih tinggi. Sebanyak 31% siswa Indonesia berada di bawah tingkat kemahiran 1 yang hanya memilik kemampuan literasi membaca sangat terbatas. Keterbatasan ini mencakup ketidakmampuan mengenal tema bacaan dan inti bacaan, kesulitan mencari informasi implisit dan ketidakmampuan mengaitkan informasi bacaan dengan pengetahuan yang dimiliki. Hanya 6% siswa Indonesia yang berada pada tingkat kemahiran 3 yakni memiliki kemampuan untuk mencari gagasan utama bacaan, mengintegrasikan, mengontraskan, dan membandingkan bagian-bagian bacaan, memahami informasi dari bacaan dengan rinci, dan memahami informasi bacaan dengan rinci, dan memahami kaitan antara pilihan informasi. (riset PISA Programme For Internasional Student Assessment; 2003)
Kenyataan tersebut membuktikan bahwa ketrampilan membaca sebagai salah satu ketrampilan berbahasa merupakan ketrampilan pokok yang terus menerus diperlukan. Ketrampilan membaca merupakan salah satu dari empat ketrampilan berbahasa. Yaitu: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Membaca mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Dengan ketrampilan membaca, tiap orang akan memasuki dunia keilmuan yang penuh pesona, memahami khasanah kearifan yang banyak hikmah dan mengembangkan berbagai ketrampilan lainnya yang amat berguna untuk kelak menjadi sukses dalam hidup. Aktivitas membaca yang trampil akan membuka jendela pengetahuan yang luas, gerbang kearifan yang dalam dan lorong keahlian yang lebar di masa depan (Gie dalam Widyamartaya, 1992:10). Ketrampilan membaca sangat penting bagi semua pelajar karena banyak kegiatan belajar adalah membaca. Berbagai mata pelajaran dapat dikuasai pelajar melalui kegiatan membaca. Ilmu yang tersimpan dalam buku harus digali dan dicari melalui kegiatan membaca. Ketrampilan membaca menentukan hasil penggalian ilmu itu. Karena itu dapat kita katakan ketrampilan mambaca sangat diperlukan dalam dunia modern. ( Tarigan, 1987:135).
Berdasarkan Kurikulum 1994, salah satu tujuan umum pembelajaran bahasa Indonesia yang terkait dengan pembelajaran membaca adalah siswa dapat memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi, serta menggunakanya dengan tepat untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan (Depdikbud,1994:1). Sedangkan tujuan khusus bahasa Indonesia yang terkait dengan pelajaran membaca diantaranya adalah siswa mampu menyerap pesan, gagasan dan pendapat orang lain dari berbagai sumber, siswa mampu mencari sumber, mengumpulkan, dan menyaring informasi dari bacaan (Depdikbud, 1994:2). Namun dalam prakteknya guru masih memperlakukan sebagian siswa seperti “robot” yang mau bergerak atau berbuat jika diperintah, siswa tidak mempunyai inisiatif dan daya kreasi. Lebih parah dari itu, umumnya mereka bersifat pasif dan acuh, bahkan sulit berkonsentrasi.
Sebenarnya tujuan kurikulum pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VII siswa sudah dapat membaca dengan lancar, tetapi hanya sebatas membaca dalam arti melambangkan tulisan. Jika menjawab pertanyaan isi bacaan, siswa melihat kembali bacaan tersebut. Pada akhirnya siswa kesulitan menyusun kembali isi bacaan dan tidak dapat menceritakan isi bacaan. Hal ini merupakan kebiasaan membaca yang salah, bahkan siswa tidak dapat menjawab pertanyaan literal. Mereka kesulitan menggunakan ide dan informasi eksplisit yang tertuang dalam bacaan. Yang biasa digunakan hanyalah intuisi dan pengalaman pribadi yang dimilikinya sebagai dasar untuk memecahkan persoalan. Siswa juga kesulitan untuk memastikan dan menilai kualitas, ketelitian, kebergunaan atau kebermanfaatan ide yang terdapat dalam bacaan (pemahaman evaluatif).
Hal itu mengakibatkan ketidakmampuan menerapkan kepekaan emosional dan estetika yang dimilikinya dalam merespon bentuk gaya, struktur, serta tehnik pemaparan ide dalam wacana. Selain itu Guru sering melakukan kegiatan belajar mengajar yang monoton. Siswa hanya diminta membaca dalam hati kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan isi bacaan dengan posisi terbuka. Hal ini menyebabkan siswa kurang aktif mengikuti pembelajaran membaca sehingga kemampuan kognitf siswa kurang. Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai strategi yang dalamnya terdapat pendekatan, metode dan teknik secara spesifik. Guru harus pandai memilih dan menggunakan metode mengajar yang dianggap tepat sesuai dengan tujuan, bahan dan keadaan siswa. Untuk menghindari kejenuhan disarankan agar guru menggunakan metode yang beragam.
Persoalan di atas seharusnya menjadi tantangan bagi pengajar untuk mengembangkan metode-metode baru dalam mengajar khususnya membaca. Menurut Widyamartaya (1992:60) metode-metode membaca yang dapat dipilih oleh guru dalam pembelajaran membaca secara intensif dan relational antara lain metode SQ3R, Metode OK5R, Metode PQRST, dan Metode SUPER SIX RS. Teknik-teknik yang biasa digunakan dalam pengajaran membaca adalah tehnik SQ3R, tehnik scramble, teknik membaca cepat, dan teknik irisan rumpang. Namun kita juga dapat menggunakan metode metode SQ3R, Metode OK5R, Metode PQRST, dan Metode SUPER SIX RS. Sebagai alternatif metode pembelajaran membaca di sekolah. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah PQRST yang dipelopori oleh EL Thomas dan Ha Robinson dalam buku mereka yang bejudul Improving Reading in Every Class. Metode PQRST ini dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan dalam membaca pemahaman dan membantu siswa yang daya ingatanya kurang atau kurang memahami bacaan yang dibacanya dengan langkah-langkah membaca. Dengan metode membaca ini proses belajar mengajar, khususnya membaca pemahaman lebih variatif sehingga dapat menghasilkan pembelajaran yang optimal.
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sudah menjadi kenyataan, kalau Indonesia dalam kualitas pendidikan berada diperingkat 109 sedangkan Malaysia berada di peringkat 61 dari seluruh jumlah negara-negara di dunia ini. Berbagai temuan penelitian menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih tertinggal jauh dari cita-cita luhur kemerdekaan bangsa dan juga tertinggal dari kemajuan yang telah dicapai oleh negara tetangga. Siswa sekolah menengah Indonesia berada pada posisi enam terbawah dari tiga puluh delapan negara (The Third Mathematic Science Study; 2000). Sementara itu riset hasil PISA (Programme For Internasional Student Assessment; 2003) menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia di tiga bidang utama yakni membaca, matematika dan sain umumnya rendah. Namun kebijakan Mendiknas untuk menetapkan kelulusan siswa ditentukan oleh pencapaian nilai diatas 4,00 yang dalam ujian akhir siswa minimal harus mencapai 4,01 untuk setiap mata pelajaran (Nasional maupun Lokal) tetap dilaksanakan mulai tahun ajaran 2003/2004. Pengumuman ini diharapkan berlaku pula untuk nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia, agar kemandiriannya sebagai sebuah disiplin ilmu sungguh-sungguh murni (Kompas 25Agustus 1998).
Hal inilah juga yang mungkin akan memacu para pengajar untuk lebih meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya mata pelajaran Bahasa Indonesia karena selain Bahasa Indonesia sebagai disiplin ilmu yang mutlak dipelajari, Bahasa Indonesia juga memiliki dua tugas. Tugas pertama adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yang tidak mengikat pemakainya sesuai dengan kaidah dasar berbahasa Indonesia. Namun Bahasa Indonesia digunakan secara nonresmi, santai, dan bebas. Yang dipentingkan dalam pergaulan dan berkomunikasi dengan warga adalah makna yang disampaikan. Pemakai bahasa Indonesia dalam konteks Bahasa Nasional dengan bebas menggunakan ujaranya baik lisan, tulis, maupun lewat kinesiknya. Kebebasan menggunakan ujaran itu juga ditentukan oleh konteks pembicaraan. Sebagai contoh, manakala Bahasa Indonesia digunakan di bus antar kota, ragam yang digunakan adalah ragam bus kota yang cenderung singkat, cepat, dan bernada keras.
Tugas kedua adalah bahasa Indonesia sebagai bahasa negara yang digunakan sebagai Bahasa resmi. Dengan begitu, bahasa Indonesia harus digunakan sesuai dengan kaidah, tartib, cermat, dan masuk akal. Bahasa Indonesia yang dipakai harus lengkap dan baik. Tingkat kebakuan diukur oleh aturan kebahasaan dan logika pemakaian. Dari ke-dua tugas tersebut, menunjukkaan bahwa posisi bahasa Indonesia perlu mendapat perhatian bagi pembelajaran bahasa Indonesia (Suyatno; 2004).
Dua tugas di atas tentunya akan memberikan dampak bagi pelajar bahasa Indonesia yang masih awal dalam penguasaan kaidah bahasa Indonesia. pada satu sisi, siswa harus belajar bahasa Indonesia sesuai kaidah, sedangkan pada sisi lain, siswa menghadapi masyarakat yang berbahasa Indonesia secara bebas karena fungsi bahasa pergaulan. Siswa yang masih belajar itu tentunya berada di dua tarikan yang kalah kuat. Tarikan masyarakat lebih kuat dibandingkan oleh tarikan dari bangku sekolah.
Bermula dari kasus di atas, akhirnya banyak orang yang menganggap bahwa yang penting dipahami bukan benar tidaknya, buat apa belajar bahasa Indonesia karena tanpa belajarpun semua orang Indonesia dapat berbahasa Indonesia, bahasa Indonesia sangat sulit dan bahasa Inggris lebih bergengsi daripada bahasa Indonesia. Angapan itu akhirnya sampai ke siswa. Siswa menjadi ogah-ogahan dalam belajar bahasa Indonesia. Banyak diantara siswa yang terpaksa mengikuti mata pelajaran bahasa Indonesia. Selain itu tidak banyak yang menyadari bahwa suatu pengajaran Bahasa selalu berkaitan pada proses pembentukan logika dalam diri peserta didik. Acuan pokok yang paling mendasar ini agaknya telah terabaikan dalam praktek pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Kurikulum terbaru sebenarnya telah memberikan peluang yang luas bagi guru untuk menggali kreativitas, baik yang menyangkut sumber bahan maupun metode penyajian. ( Kompas 31 Mei 2004)
Kecenderungan lama masih saja muncul dengan mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang kira-kira akan keluar pada waktu ujian akhir. Ukuran keberhasilan pengajaran Bahasa Indonesia hanya ditolak dengan ketepatan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam testing. Keadaan pembelajaran seperti itu telah menjadi unsur dominan yang menggagalkan proses pembentukan logika dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Sedangkan dalam menunjang kegiatan belajar mengajar terdapat delapan kompetensi antara lain membaca, menulis, mendengar, menutur, berhitung, mengamati, menghayal, dan menghayati. Dari kedelapan kompetensi tersebut sangat erat hubunganya dengan pengajaran Bahasa Indonesia (Kompas 31 Mei 2004). Namun peranan pelajaran Bahasa Indonesia dalam menumbuhkan kompetensi di atas masih sangat kurang terutama membaca. Hasil riset PISA (Programme For Internasional Student Assessment; 2003) menunjukkan bahwa kemampuan siswa Indonesia khususnya membaca umumnya rendah.
Dalam pidatonya Presiden Megawati Soekarnoputri juga pernah menyatakan bahwa dibanding dengan Singapura yang berpenduduk 200 juta jiwa, Indonesia banyak memiliki siswa yang cerdas dan berkemampuan daripada Singapura, namun rendahnya minat baca membuat Indonesia tertinggal dalam mengembangkan teknologi dan pengetahuan (Kompas 30 juli 2004)
Dalam hal kemampuan literasi membaca siswa Indonesia juga jauh tertinggal. Sebanyak 69% siswa Indonesia berada pada tingkat kecapaian 1 dibawah 1; sementara itu 63% siswa Thailand berada pada tingkat kemahiran 2 atau lebih tinggi. Sebanyak 31% siswa Indonesia berada di bawah tingkat kemahiran 1 yang hanya memilik kemampuan literasi membaca sangat terbatas. Keterbatasan ini mencakup ketidakmampuan mengenal tema bacaan dan inti bacaan, kesulitan mencari informasi implisit dan ketidakmampuan mengaitkan informasi bacaan dengan pengetahuan yang dimiliki. Hanya 6% siswa Indonesia yang berada pada tingkat kemahiran 3 yakni memiliki kemampuan untuk mencari gagasan utama bacaan, mengintegrasikan, mengontraskan, dan membandingkan bagian-bagian bacaan, memahami informasi dari bacaan dengan rinci, dan memahami informasi bacaan dengan rinci, dan memahami kaitan antara pilihan informasi. (riset PISA Programme For Internasional Student Assessment; 2003)
Kenyataan tersebut membuktikan bahwa ketrampilan membaca sebagai salah satu ketrampilan berbahasa merupakan ketrampilan pokok yang terus menerus diperlukan. Ketrampilan membaca merupakan salah satu dari empat ketrampilan berbahasa. Yaitu: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Membaca mempunyai peranan penting dalam kehidupan manusia. Dengan ketrampilan membaca, tiap orang akan memasuki dunia keilmuan yang penuh pesona, memahami khasanah kearifan yang banyak hikmah dan mengembangkan berbagai ketrampilan lainnya yang amat berguna untuk kelak menjadi sukses dalam hidup. Aktivitas membaca yang trampil akan membuka jendela pengetahuan yang luas, gerbang kearifan yang dalam dan lorong keahlian yang lebar di masa depan (Gie dalam Widyamartaya, 1992:10). Ketrampilan membaca sangat penting bagi semua pelajar karena banyak kegiatan belajar adalah membaca. Berbagai mata pelajaran dapat dikuasai pelajar melalui kegiatan membaca. Ilmu yang tersimpan dalam buku harus digali dan dicari melalui kegiatan membaca. Ketrampilan membaca menentukan hasil penggalian ilmu itu. Karena itu dapat kita katakan ketrampilan mambaca sangat diperlukan dalam dunia modern. ( Tarigan, 1987:135).
Berdasarkan Kurikulum 1994, salah satu tujuan umum pembelajaran bahasa Indonesia yang terkait dengan pembelajaran membaca adalah siswa dapat memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi, serta menggunakanya dengan tepat untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan (Depdikbud,1994:1). Sedangkan tujuan khusus bahasa Indonesia yang terkait dengan pelajaran membaca diantaranya adalah siswa mampu menyerap pesan, gagasan dan pendapat orang lain dari berbagai sumber, siswa mampu mencari sumber, mengumpulkan, dan menyaring informasi dari bacaan (Depdikbud, 1994:2). Namun dalam prakteknya guru masih memperlakukan sebagian siswa seperti “robot” yang mau bergerak atau berbuat jika diperintah, siswa tidak mempunyai inisiatif dan daya kreasi. Lebih parah dari itu, umumnya mereka bersifat pasif dan acuh, bahkan sulit berkonsentrasi.
Sebenarnya tujuan kurikulum pembelajaran bahasa Indonesia di kelas VII siswa sudah dapat membaca dengan lancar, tetapi hanya sebatas membaca dalam arti melambangkan tulisan. Jika menjawab pertanyaan isi bacaan, siswa melihat kembali bacaan tersebut. Pada akhirnya siswa kesulitan menyusun kembali isi bacaan dan tidak dapat menceritakan isi bacaan. Hal ini merupakan kebiasaan membaca yang salah, bahkan siswa tidak dapat menjawab pertanyaan literal. Mereka kesulitan menggunakan ide dan informasi eksplisit yang tertuang dalam bacaan. Yang biasa digunakan hanyalah intuisi dan pengalaman pribadi yang dimilikinya sebagai dasar untuk memecahkan persoalan. Siswa juga kesulitan untuk memastikan dan menilai kualitas, ketelitian, kebergunaan atau kebermanfaatan ide yang terdapat dalam bacaan (pemahaman evaluatif).
Hal itu mengakibatkan ketidakmampuan menerapkan kepekaan emosional dan estetika yang dimilikinya dalam merespon bentuk gaya, struktur, serta tehnik pemaparan ide dalam wacana. Selain itu Guru sering melakukan kegiatan belajar mengajar yang monoton. Siswa hanya diminta membaca dalam hati kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan isi bacaan dengan posisi terbuka. Hal ini menyebabkan siswa kurang aktif mengikuti pembelajaran membaca sehingga kemampuan kognitf siswa kurang. Oleh karena itu, guru perlu menguasai dan dapat menerapkan berbagai strategi yang dalamnya terdapat pendekatan, metode dan teknik secara spesifik. Guru harus pandai memilih dan menggunakan metode mengajar yang dianggap tepat sesuai dengan tujuan, bahan dan keadaan siswa. Untuk menghindari kejenuhan disarankan agar guru menggunakan metode yang beragam.
Persoalan di atas seharusnya menjadi tantangan bagi pengajar untuk mengembangkan metode-metode baru dalam mengajar khususnya membaca. Menurut Widyamartaya (1992:60) metode-metode membaca yang dapat dipilih oleh guru dalam pembelajaran membaca secara intensif dan relational antara lain metode SQ3R, Metode OK5R, Metode PQRST, dan Metode SUPER SIX RS. Teknik-teknik yang biasa digunakan dalam pengajaran membaca adalah tehnik SQ3R, tehnik scramble, teknik membaca cepat, dan teknik irisan rumpang. Namun kita juga dapat menggunakan metode metode SQ3R, Metode OK5R, Metode PQRST, dan Metode SUPER SIX RS. Sebagai alternatif metode pembelajaran membaca di sekolah. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah PQRST yang dipelopori oleh EL Thomas dan Ha Robinson dalam buku mereka yang bejudul Improving Reading in Every Class. Metode PQRST ini dapat membantu siswa dalam mengatasi kesulitan dalam membaca pemahaman dan membantu siswa yang daya ingatanya kurang atau kurang memahami bacaan yang dibacanya dengan langkah-langkah membaca. Dengan metode membaca ini proses belajar mengajar, khususnya membaca pemahaman lebih variatif sehingga dapat menghasilkan pembelajaran yang optimal.
